Ketika Olahraga Menjadi Pelarian, Bukan Sekadar Rutinitas
Setiap orang tentu pernah merasakan saat-saat di mana dunia terasa terlalu berat untuk dijalani. Bagi saya, periode tersebut terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Ketika itu, tekanan pekerjaan, masalah pribadi, dan rutinitas sehari-hari seakan menyelubungi saya dalam kegelapan. Dalam mencari cara untuk melarikan diri dari stres yang melanda, saya menemukan bahwa olahraga bukan hanya tentang kebugaran fisik; ia menjadi jalan keluar bagi kesehatan mental saya.
Menghadapi Tantangan
Awalnya, olahraga bagi saya adalah kewajiban. Di tengah kesibukan sehari-hari sebagai penulis konten di sebuah agensi digital di Jakarta, berolahraga seperti berjuang dalam sebuah pertarungan tanpa makna. Jadwal yang padat membuat saya terbiasa dengan rutinitas monoton; bangun pagi sebelum matahari terbit, bergegas ke gym selama sejam, lalu kembali ke pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi semua itu berubah ketika salah satu rekan kerja mengajak saya mengikuti kelas sophrologie. “Coba deh! Ini bukan hanya soal fisik,” katanya dengan semangat. Saya ragu pada awalnya—sebuah kelas yang terdengar lebih spiritual dibandingkan latihan kebugaran biasa.
Pertemuan Pertama dengan Sophrologie
Kelas pertama saya berlangsung pada sore hari di studio kecil yang dikelilingi tanaman hijau rimbun. Suasana tenang disertai aroma lavender dan suara lembut musik instrumental membuat pikiran saya sedikit melunak dari kegundahan sehari-hari. Instruktur menjelaskan bahwa sophrologie merupakan teknik relaksasi yang menggabungkan pernapasan, visualisasi positif, dan gerakan lembut—sebuah kombinasi sempurna untuk menyeimbangkan tubuh dan pikiran.
Saya mulai merasakan perubahan saat mengikuti sesi pertama: mengatur napas jauh lebih dalam dan memperhatikan setiap gerakan tubuh. Di sinilah pelarian baru dimulai—menggunakan aktivitas fisik sebagai sarana penyembuhan batin daripada sekadar angkat beban atau lari cepat di treadmill.
Momen Transformasi
Seiring waktu berlalu dan setelah beberapa sesi rutin dari kelas sophrologie tersebut, hidup mulai terasa berbeda. Saya belajar mengelola stres dengan lebih efektif melalui teknik-teknik mindfulness dan meditasi sederhana ini. Misalnya saja saat menghadapi deadline ketat—daripada panik atau merasa overwhelmed—saya berhenti sejenak untuk menarik napas dalam-dalam dan membayangkan tujuan akhir dari proyek tersebut secara positif.
Satu malam setelah kelas sophrologie terakhir sebelum proyek besar dimulai, ada momen mendalam ketika semua beban terasa hilang seolah ditarik angin malam yang segar; hal ini membantu memperjelas fokus sekaligus membawa rasa damai ke dalam diri sendiri.
Pelajaran Berharga dari Proses Ini
Olahraga kini bukan lagi sekadar kewajiban; ia menjadi pelarian penuh makna bagi kesehatan mental saya. Sophrologie mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara tubuh dan pikiran melalui praktik harian sederhana namun berdampak besar terhadap kehidupan kita secara keseluruhan.
Dari pengalaman ini juga muncul kesadaran baru tentang bagaimana merawat diri bukanlah tindakan egois tetapi sebuah kebutuhan vital demi menjalani hidup dengan penuh semangat dan energi positif.
Sebagai penutup cerita ini berdasarkan perjalanan pribadi serta manfaat teknik sophrologie bagi kesehatan mental kita dapat dilihat di sini.